M. Nuh Terima Penghargaan dari Kaisar Jepang

Prof Dr Ir Mohammad Nuh DEA, Mantan Mendikbud yang kini menjadi Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya dan Ketua Majlis Wali Amanat ITS, Selasa (10/5) siang tadi di Tokyo, Jepang, menerima penghargaan “The Order of The Rising Sun” dari Pemerintah Jepang.

Didampingi isteri, Drg Ny Laily Rachmawati, Nuh menerima penganugrahaan tersebut langsung diberikan oleh PM Jepang, Shinzō Abe, di istana, kekaisar Jepang di Tokyo. Nuh dianggap paling berjasa dalam upaya mengembalikan tulang tentara Jepang yang gugur pada Perang Dunia II di Papua.

Selain itu, selama menjabat sebagai Mendikbud RI pada periode 2009-2014, Nuh juga telah berusaha  untuk merintis hubungan kerjasama antar perguruan tinggi Indonesia dan Jepang. “Selain itu dalam periode yang sama antara tahun 2009-2014, minat siswa dan mahasiswa Indonesia untuk ikut kursus bahasa Jepang meningkat pesat. Mereka menilainya itu atas usaha dan jerih payah dari kebijakan yang saya siapkan,” kata Nuh.

Usai menerima penghargaan, Nuh dan isteri bersama dengan tujuh pasang penerima penghargaan serupa dari beberapa negara, bertemu dengan Kaisar Jepang.

Nuh menjelaskan pada tahun 2016 ini ada 20 penerima penghargaan yang sama dari seluruh dunia, namun hanya delapan penerima yang diundang ke Jepang untuk menerima langsung dari Pemerintah Jepang. Selain Nuh dari Indonesia, masing-masing dari India, Turki, Swedia, Thailand, dan Meksiko.

“Alhamdulillah, saya termasuk salah satu dari penerima penghargaan yang diundang ke Jepang, sedangkan penerima penghargaan lainnya akan menerimanya dari Kedutaan Jepang pada masing-masing negara,” katanya.

Menurut Nuh yang kini menjadi Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya, ada sejumlah alasan yang mendasari pemberian penghargaan itu kepada dirinya, diantaranya dirinya dianggap mampu meningkatkan hubungan baik antara Indonesia dan Jepang, khususnya hubungan antar-universitas Indonesia-Jepang. Salah satu bentuknya Nuh membentuk Asosiasi Rektor Universitas Jepang-Indonesia dengan pertemuan pertama di Nagoya University pada tahun 2012 yang dihadiri para pejabat dan diplomat di Jepang dan Mantan Presiden RI, B.J. Habibie sebagai pembicara utama dalam pertemuan tersebut.

Jasa lain dari Nuh, yang dianggap pemerintah Jepang sangat luar biasa adalah terkait dengan upaya pengembalian tulang belulang tentara Jepang yang gugur selama Perang Dunia II di Papua.

“Bagi saya, soal tulang ini termasuk aneh, tapi saya memandang positif, bahwa Pemerintah Jepang telah menunjukkan penghargaan yang sangat besar kepada nenek moyangnya, meski sudah menjadi tulang belulang,” katanya.

Dikatakan Nuh, sebelumnya, Pemerintah Jepang merasa kesulitan untuk mengembalikan tulang belulang itu ke Jepang, karena itu dianggap sebagai benda cagar budaya, karena telah berusia di atas 50 tahun.

“Waktu saya Mendikbud, saya mencoba menggunakan pendekatan berbeda. Bagi Pemerintah Indonesia, tulang belulang itu tidaklah terlalu penting. Saya mencoba konsultasi ke Unesco dan mengatakan kalao tulang-tulang itu bukan bagian dari cagar budaya, melainkan urusan kemanusiaan dan hubungan baik antar negara. Pihak Unesco menerima dengan usulan itu, dan akhirnya tulang-belulang itu diangkut ke Jepang,” katanya. [unusa.ac.id]